Magspot Blogger Template

Sindiran Pejabat Publik: Krisis Etika atau Sekadar Panggung Pencitraan?

eramediapos.com,- Maraknya gaya komunikasi menyindir yang diperlihatkan sejumlah pejabat publik belakangan ini menuai kritik dari berbagai kalangan. Alih-alih menunjukkan kualitas kepemimpinan yang dewasa dan berwibawa, pola komunikasi bernada satir justru dinilai memperlihatkan kemunduran etika dalam ruang publik.

Pejabat publik sejatinya hadir sebagai representasi negara, pengayom masyarakat, sekaligus penentu arah komunikasi yang sehat. Namun ketika kritik disampaikan melalui sindiran, sentilan personal, hingga pernyataan yang memancing kegaduhan, publik mulai mempertanyakan kualitas kepemimpinan yang ditampilkan.

Dalam situasi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari ekonomi, pelayanan publik, hingga ketidakpastian sosial, publik membutuhkan solusi dan ketegasan sikap, bukan pertunjukan komunikasi yang terkesan emosional dan penuh sindiran.

Pengamat komunikasi sosial menilai, kebiasaan menyindir dari seorang pejabat bukan sekadar persoalan gaya bicara, melainkan mencerminkan cara pandang terhadap kekuasaan dan kritik. 

Ketika jabatan digunakan untuk melontarkan sindiran kepada pihak lain, muncul kesan bahwa ruang publik sedang diarahkan menjadi arena saling serang, bukan ruang dialog yang bermartabat.

“Pejabat publik memiliki tanggung jawab moral menjaga kualitas komunikasi di tengah masyarakat. Jika elite mempertontonkan budaya sindir-menyindir, maka jangan heran apabila masyarakat ikut menormalisasi komunikasi yang kasar, sinis, dan minim empati,” ujar seorang pengamat sosial-politik. Kamis, (21/05).

Fenomena ini juga dianggap memperlihatkan krisis keteladanan. Kritik yang seharusnya disampaikan secara terbuka, argumentatif, dan elegan justru berubah menjadi narasi menyenggol yang mengaburkan substansi persoalan. Akibatnya, perhatian publik bergeser dari penyelesaian masalah menuju drama komunikasi politik yang melelahkan.

Tidak sedikit masyarakat yang mulai menilai bahwa gaya komunikasi seperti itu lebih dekat pada upaya membangun sensasi dan pencitraan populis dibanding menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang matang. Sebab seorang pemimpin yang kuat tidak diukur dari kepiawaiannya menyindir lawan, melainkan dari kemampuannya menghadirkan solusi, menjaga etika, dan meredam kegaduhan.

Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya tensi sosial, publik membutuhkan figur pemimpin yang mampu menenangkan keadaan, bukan justru ikut memperkeruh suasana dengan komunikasi yang provokatif dan tidak elegan.

Reporter : Red
Lebih baru Lebih lama

ads

Magspot Blogger Template

ads

Magspot Blogger Template
Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال