PURWAKARTA, eramediapos.com,- Pagi hari semestinya menjadi waktu paling sibuk di sebuah sekolah. Bel masuk berbunyi, guru bersiap di ruang kelas, dan murid menunggu pelajaran dimulai—menunggu masa depan mereka dibentuk.
Namun pemandangan itulah yang tidak ditemukan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, saat mengunjungi SDN 1 Cisalada untuk membagikan sepatu kepada siswa.
Faktanya mencengangkan: hingga jam sekolah hampir dimulai, tidak satu pun guru hadir. Sekolah negeri itu tampak lengang. Yang ada hanya penjaga sekolah.
Ini bukan sekadar persoalan keterlambatan. Ini adalah tamparan keras bagi wajah dunia pendidikan Purwakarta.
Lebih menyakitkan lagi, kejadian ini berlangsung di jam sekolah, di sekolah negeri, di bawah pengawasan institusi yang setiap bulan menerima anggaran dan menggaji pegawainya—Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta.
Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk: Ke mana Dinas Pendidikan?
Di mana fungsi pengawasan rutin? Di mana laporan kehadiran guru? Di mana tanggung jawab moral terhadap orang tua yang setiap hari menitipkan anaknya untuk dididik, bukan ditinggalkan?
Ironisnya, Dinas Pendidikan bukan lembaga sukarela. Pegawainya digaji dari uang rakyat. Namun ketika sebuah sekolah kosong dari guru, yang terdengar justru sunyi—tidak ada klarifikasi cepat, tidak ada rasa bersalah yang ditunjukkan ke publik, apalagi permintaan maaf.
Om Zein menyebut kejadian ini memalukan. Dan itu benar. Namun yang lebih memalukan adalah jika peristiwa ini dianggap sepele, lalu berlalu tanpa evaluasi serius dan sanksi nyata.
Karena jika pagi ini satu sekolah tanpa guru, esok hari yang terancam bukan hanya jam pelajaran, tetapi kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan Purwakarta itu sendiri.
Pendidikan bukan sekadar spanduk visi-misi, bukan rapat berlapis, dan bukan laporan rapi di balik meja. Pendidikan hidup di ruang kelas. Dan ketika ruang kelas kosong tanpa guru, itu tanda sistem sedang gagal bekerja.
Jika seorang bupati harus turun langsung untuk menemukan masalah yang seharusnya terpantau setiap hari, maka wajar bila publik bertanya: Apa sebenarnya yang dikerjakan Dinas Pendidikan selama ini?
Masyarakat tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya menuntut hal paling mendasar: guru hadir, murid belajar, dan dinas bekerja.
Jika hal sesederhana itu pun tak bisa dijamin, mungkin sudah saatnya bukan hanya sekolah yang dievaluasi, melainkan seluruh cara kerja Dinas Pendidikan itu sendiri.
Reporter : Red/Die
Tags
Pendidikan

