eramediapos.com,- Di balik tenangnya perbukitan Majalengka, tersimpan jejak peradaban yang tak selalu terdengar, namun terus berbisik melalui peninggalan leluhur. Salah satunya adalah sebuah arca kecil berlapis emas yang dikenal dengan nama Simbar Kancana—sebuah simbol yang tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menyimpan makna yang dalam.
Arca ini berdiri tegak, setinggi kurang dari setengah meter, namun auranya melampaui ukurannya. Dibuat dari perunggu berlapis emas, Simbar Kancana menampilkan sosok dengan wajah tenang, mata setengah terpejam, seolah berada dalam ruang hening antara dunia lahir dan batin.
Tangan kanannya terangkat dalam posisi Abhaya Mudra—sebuah isyarat kuno yang melambangkan perlindungan dan ketenteraman, seakan menyampaikan pesan lintas zaman: “Jangan takut.”
Keindahan arca ini tidak berhenti pada gestur. Ia dihiasi mahkota, kalung, gelang, serta kain panjang yang menjuntai ke belakang, menandakan bahwa sosok yang diwakilinya bukanlah figur biasa. Ia bisa jadi seorang tokoh agung, simbol spiritual, atau bahkan representasi kekuasaan yang diselimuti kebijaksanaan.
Menariknya, gaya arca ini disebut memiliki pengaruh Siam (Thailand), mengisyaratkan bahwa wilayah Talaga Manggung pada masa lalu bukanlah daerah terisolasi. Ia adalah bagian dari jalur peradaban yang lebih luas—terhubung dengan budaya besar Asia Tenggara, tempat ide, keyakinan, dan seni saling bertukar dan bertransformasi.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa arca ini pernah berada di kediaman Ny. R. Anggrek, janda dari Pangeran Kertadilaga—keturunan langsung Raja Talaga. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Simbar Kancana bukan sekadar artefak, melainkan bagian dari pusaka keluarga bangsawan yang dijaga lintas generasi.
Kini, Simbar Kancana tidak hanya menjadi objek kajian sejarah, tetapi juga jendela untuk memahami kedalaman identitas budaya Talaga. Ia adalah saksi bisu dari masa ketika kekuasaan, spiritualitas, dan seni menyatu dalam satu tarikan napas.
Di tengah arus modernitas yang sering melupakan akar, arca ini berdiri sebagai pengingat: bahwa dalam diam, leluhur tetap berbicara. Dan dalam keheningan itulah, kita diajak untuk kembali mendengar. Kamis, (23/04).

