Magspot Blogger Template

Bukan Sekadar Nilai Seleksi, Kursi Kadis Perkim Butuh Pemimpin

PURWAKARTA, eramediapos.com,- Tiga nama telah masuk dalam tiga besar calon Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Purwakarta.

Berdasarkan data yang beredar, tiga nama tersebut adalah Entin Suryatin dengan nilai 82,24, Yadi Heryadi dengan nilai 79,89, dan Pramuji Nugroho dengan nilai 77,98.

Namun, ketika kabar tiga besar itu sampai ke meja Warung Kopi, pertanyaan pelanggan ternyata bukan semata-mata soal siapa yang memperoleh nilai tertinggi.

Justru pertanyaannya sederhana, tetapi cukup menggelitik:

“Kalau sudah duduk di kursi Kadis, bisa memimpin tidak?”

Kopi pun mulai diseruput pelan-pelan.

Pelanggan Pertama: Nilai Tinggi Itu Bagus, Tapi Kursi Kadis Bukan Kursi Ujian

“Kalau nilai tinggi, ya bagus,” kata pelanggan pertama sambil mengaduk kopinya.

“Tapi jangan lupa, kursi Kadis itu bukan kursi ujian. Tidak ada pengawas yang setiap lima menit bilang, ‘Waktu Anda tinggal sebentar.’”

Pelanggan kedua tertawa.

“Betul. Kalau ujian selesai, lembar jawaban dikumpulkan. Kalau jadi Kadis, yang dikumpulkan bukan kertas jawaban, tetapi hasil kerja satu organisasi.”

Meja sebelah mulai ikut memperhatikan.

Pelanggan Kedua: Jangan Sampai Pintar Menjawab, Tapi Bingung Mengarahkan

“Pemimpin itu bukan cuma pintar menjawab pertanyaan,” celetuk pelanggan kedua.

“Yang lebih penting, ketika bawahannya bertanya, dia tahu organisasi ini mau dibawa ke mana.”

Ia kembali menyeruput kopi.

“Karena kalau semua keputusan dilempar ke bawah, namanya bukan memimpin. Itu namanya kursinya di atas, bebannya di bawah.”

Meja Warung Kopi pun mulai riuh.

Pelanggan Ketiga: Kantor Butuh Komando, Bukan Sekadar Tanda Tangan

“Kalau sudah menjadi kepala dinas, jangan hanya kelihatan ketika ada acara dan tanda tangan dokumen,” kata pelanggan ketiga.

“Yang ditunggu itu kemampuan menggerakkan jajaran.”

“Bisa berkomunikasi?”

“Bisa membangun kerja sama?”

“Bisa menyelesaikan persoalan?”

“Bisa membuat bawahan bekerja dalam suasana yang kondusif?”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Kalau semua itu bisa dilakukan, baru terasa bedanya antara pejabat yang sekadar duduk di kursi dengan pemimpin yang benar-benar menggerakkan organisasi.”

Pelanggan Keempat: Jangan Sampai Kursinya Empuk, Suasana Kantornya Malah Tegang

“Yang paling bahaya itu bukan kursinya keras. Yang bahaya kalau kursinya empuk, tapi setelah pimpinan duduk, suasana di bawah malah ikut panas,” katanya sambil tertawa kecil.

“Lho, memangnya sudah begitu?” tanya pelanggan lain.

“Bukan ngomong siapa-siapa,” jawabnya cepat.

“Ini cuma pengingat. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin Perkim harus mampu menjaga kondusivitas internal.”

Sebab, kepala dinas tidak bekerja sendirian.

Ada sekretaris, para kepala bidang, pejabat struktural, staf, hingga jajaran pelaksana yang semuanya memiliki peran dalam menjalankan roda organisasi.

Kalau komunikasi buruk, koordinasi tersendat, dan suasana kerja tidak kondusif, dampaknya pada akhirnya bukan hanya dirasakan oleh pegawai.

Masyarakat pun bisa ikut merasakan.

Bukan Hanya Angka

“Kalau saya jadi Bupati, saya tidak akan berhenti melihat angka,” ujar pelanggan lain.

“Lihat juga rekam jejak. Lihat pengalaman. Lihat integritas. Lihat kemampuan manajerial. Lihat cara berkomunikasi. Lihat kemampuan membangun tim.”

Pernyataan itu memang terdengar sederhana.

Namun, dalam sebuah organisasi pemerintahan, kemampuan memimpin tidak berhenti pada capaian individual dalam sebuah proses seleksi.

Kepala dinas akan berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks: bagaimana menerjemahkan kebijakan menjadi program, bagaimana menggerakkan aparatur, bagaimana membangun koordinasi lintas sektor, bagaimana mengambil keputusan, dan bagaimana memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Karena itu, tiga nama yang kini berada di tiga besar tentu memiliki catatan dan hasil seleksi masing-masing.

Peringkat 1 — Entin Suryatin: 82,24

Peringkat 2 — Yadi Heryadi: 79,89

Peringkat 3 — Pramuji Nugroho: 77,98

Siapa pun yang pada akhirnya dipercaya menduduki kursi Kepala Dinas Perkim Purwakarta, publik tentu berharap proses penentuan tidak berhenti pada angka hasil seleksi semata, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan organisasi dan kemampuan kepemimpinan yang relevan dengan tugas jabatan.

Sebab, kursi kepala dinas bukan sekadar tempat untuk duduk.

Di sana ada tanggung jawab, ada bawahan yang harus diarahkan, ada program yang harus dijalankan, dan yang paling penting, ada masyarakat yang menunggu pelayanan.

“Jangan sampai yang dicari cuma siapa yang layak duduk di kursi Kadis,” celetuk pelanggan terakhir.

“Yang lebih penting, siapa yang setelah duduk mampu membuat bawahannya bekerja dengan tenang, kompak, profesional, dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik.”

Warung Kopi kembali hening.

Cangkir-cangkir kembali diangkat.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan terlalu lama bertanya tentang berapa nilai seseorang ketika mengikuti seleksi.

Masyarakat akan lebih banyak melihat apa yang dikerjakan setelah seseorang mendapatkan amanah.

Karena kalau kursinya sudah didapat, tetapi kantor justru tidak kondusif, jangan salahkan kopinya kalau kemudian terasa makin pahit.

Kopi boleh pahit. Kepemimpinan jangan.

Reporter : Red
Lebih baru Lebih lama

ads

Magspot Blogger Template

ads

Magspot Blogger Template
Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال