PURWAKARTA, eramediapos.com,-Dalam sistem pemerintahan, semua peran sejatinya sudah jelas. Ada yang memimpin, ada yang mendampingi. Ada nahkoda, ada wakil yang membantu memastikan kapal tetap stabil menuju tujuan.
Namun persoalan muncul ketika posisi mendampingi mulai terasa kurang memuaskan, lalu peran perlahan bergeser—bukan lagi menopang, melainkan seolah ingin tampil sebagai pusat kendali.
Di sinilah publik mulai bertanya-tanya: ini soal semangat kerja, atau ada hasrat yang terlalu cepat berlari?
Purwakarta tentu membutuhkan pemerintahan yang solid. Rakyat membutuhkan kerja nyata, bukan kompetisi terselubung soal siapa paling terlihat.
Karena dalam tata kelola, harmoni jauh lebih penting daripada ambisi personal yang terlalu menonjol.
Jabatan wakil bukanlah posisi bayangan yang harus selalu mencari sorotan sendiri. Ia adalah peran strategis yang kekuatannya justru terlihat ketika mampu memperkuat kepemimpinan utama, bukan sibuk membangun panggung paralel.
Sayangnya, ketika setiap momentum terasa ingin diambil, setiap program ingin lebih dulu dikaitkan, dan setiap ruang publik seperti menjadi arena pencitraan, maka kesan yang muncul sulit dihindari: ada energi besar untuk tampil lebih depan dari semestinya.
Padahal masyarakat tidak sedang menilai siapa paling aktif di kamera atau siapa paling sering muncul di panggung acara. Yang mereka ukur sederhana: apakah pelayanan membaik, apakah persoalan daerah terselesaikan, dan apakah pemerintahan berjalan efektif tanpa kegaduhan ego.
Ketika batas etika mulai dianggap sekadar formalitas, maka yang lahir bukan kolaborasi, melainkan potensi rivalitas dalam satu atap kekuasaan.
Ini tentu bukan situasi ideal.
Sebab pemerintahan yang sehat memerlukan kesadaran posisi.
Bahwa tidak semua kursi harus diperlakukan seperti singgasana utama. Kadang, justru kebesaran seseorang terlihat dari kemampuannya menjalankan peran tanpa harus merebut pusat cahaya.
Ambisi bukan sesuatu yang salah. Tetapi ambisi yang melaju tanpa rem sering kali mengaburkan tujuan awal: mengabdi, bukan mendominasi.
Purwakarta tidak membutuhkan dua pusat orbit dalam satu jalur pemerintahan. Terlalu banyak matahari justru bisa membuat arah membingungkan.
Pada akhirnya, rakyat bisa melihat dengan jernih. Mana yang bekerja tulus untuk kepentingan publik, dan mana yang mulai sibuk menata langkah untuk panggung berikutnya.
Karena dalam politik, sorotan bisa diciptakan.
Tapi ketulusan kerja… selalu terlihat pada hasilnya.
Penulis : Ketua Pospera Purwakarta, Sutisna Sonjaya.
Tags
Opini

