Magspot Blogger Template

Jejak Sunyi H. Masud Damhuri Membangun Pendidikan Gratis Berbasis Nabawiyah, Melahirkan Lulusan ke Kampus-Kampus Terbaik

MAJALENGKA, eramediapos.com,- Di sudut Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang tumbuh tanpa gemerlap promosi. Selama puluhan tahun, sekolah itu menjadi saksi lahirnya ribuan generasi yang ditempa bukan hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga keimanan dan akhlak.

Di balik berdirinya MI, MTs, dan MA PUI Talaga, ada sosok H. Mas'ud Damhuri (84), seorang pengusaha yang memilih mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun pendidikan. Sejak madrasah itu berdiri pada 1967, ia berkomitmen memberikan pendidikan tanpa memungut biaya kepada seluruh peserta didik, termasuk penyediaan asrama bagi siswa dan siswi.

Bagi Mas'ud Damhuri, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan membentuk manusia yang beriman, berintegritas, dan memiliki keberanian mengambil keputusan. Karena itu, para guru di lingkungan PUI Talaga tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator agar peserta didik aktif dalam proses belajar.

Menurutnya, model pendidikan paling ideal sesungguhnya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pendidikan nabawiyah terbukti melahirkan negarawan, ilmuwan, pemimpin, dan tokoh-tokoh besar selama berabad-abad dalam sejarah peradaban Islam.

"Jika pendidikan Rasulullah telah terbukti melahirkan generasi unggul selama lebih dari 12 abad, mengapa hari ini kita justru menghadapi krisis moral yang ditandai maraknya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga berbagai persoalan multidimensi?" ujar Mas'ud.

Ia menilai akar persoalan tersebut terletak pada sistem pendidikan yang belum menjadikan keimanan dan akhlak sebagai fondasi utama pembelajaran.

"Apabila tarbiyah nabawiyah diterapkan secara konsisten, generasi yang lahir akan memiliki akhlakul karimah, tidak mudah saling mencela, serta menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab," katanya.

Mas'ud menegaskan, menerapkan pendidikan nabawiyah tidak berarti harus mengganti kurikulum nasional. Yang diperlukan adalah menghadirkan penguatan akidah dalam setiap mata pelajaran, baik matematika, fisika, bahasa Indonesia maupun ilmu lainnya, melalui perpaduan dalil naqli yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis dengan dalil aqli yang berbasis logika dan penalaran ilmiah.

Menurutnya, Al-Qur'an sendiri memuat ratusan ayat kauniyah yang mengajak manusia mengamati langit, gunung, lautan, tumbuhan, hewan hingga proses penciptaan manusia. Ayat-ayat tersebut menjadi dasar agar peserta didik terbiasa berpikir kritis, melakukan observasi ilmiah, sekaligus mentadabburi kebesaran Allah SWT sehingga ilmu pengetahuan semakin menguatkan keimanan.

Dalam praktiknya, pendidikan karakter di PUI Talaga dibangun melalui empat sifat utama Rasulullah SAW, yakni shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas). Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga melahirkan budaya saling menghormati, gotong royong, tidak merendahkan orang lain, serta membangun pribadi yang berintegritas.

Hasilnya mulai terlihat. Lulusan MA PUI Talaga berhasil bersaing masuk ke berbagai perguruan tinggi negeri bergengsi, di antaranya ITB, IPB University, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Malang, Universitas Siliwangi, hingga Universitas Jenderal Soedirman.

Prestasi tersebut membuktikan bahwa madrasah berbasis keimanan dan akhlak mampu menghasilkan lulusan yang tidak kalah kompetitif dibandingkan sekolah-sekolah unggulan lainnya.

Selain memperkuat pendidikan karakter, PUI Talaga juga mempertahankan kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan jati diri peserta didik. Bagi Mas'ud Damhuri, kecerdasan intelektual akan memiliki makna apabila berjalan seiring dengan keimanan, akhlak, dan kepedulian terhadap budaya bangsa.

Di usia 84 tahun, Mas'ud Damhuri masih menyimpan keyakinan yang sama seperti ketika pertama kali mendirikan madrasah hampir enam dekade lalu: membangun bangsa harus dimulai dari membangun manusia. Dan membangun manusia, menurutnya, harus dimulai dari pendidikan yang menanamkan iman, ilmu, dan akhlak dalam satu kesatuan.

Reporter : Die
Lebih baru Lebih lama

ads

Magspot Blogger Template

ads

Magspot Blogger Template
Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال